PENDAHULUAN
Kelinci
adalah hewan jenis purba pada mulanya kelinci digolongkan sebagai hewan jenis “
Rodentia” karena sering mengerat.
Tahun 1912 katagori Rodentia
digugurkan karena kelinci memiliki perbedaan tertentu dalam giginya. Istilah
yang tepat ”Logomorpha’ dan
spesifikasinya masuk katagori Lagormopha
– Leporidae sebagaimana hewan jenis Hare.
Klasifikasi
taksonomi kelinci (Orcytolagus cuniculu)menurut
sistem binomial adalah sebagai berikut:
Kelas : mamalia
Ordo : Lagomorpha
Family : Leporidae
Sub family : leporine
Genus : Lepus, Oricptolagus
Spesies : Lepus spp, Oricptolagus
Menurut
tipenya kelinci dibagia atas tiga kelas yaitu, kelinci tipe kecil ( berbobot 0,9 – 2 kg) dewasa kelamin umur 3
-4 bulan, tipe sedang ( berbobot 2 – 4 kg) dewasa kelamin 5 – 6 bulan, dan tipe
berat ( berbobot 5 – 8 kg ) dewasa kelamin umur 7 – 8 bulan ( Dewi lestari s,
2008). Untuk
melakukan budidaya kelinci perlu diperhatikan beberapa aspek, dimana aspek ini
merupakan penentu keberhasilan dalam beternak kelinci.
KELINCI (Orcytolagus cuniculus)
A. Jenis – Jenis Kelinci
Ras kelinci
memiliki ukuran, warna dan panjang bulu, pertumbuhan dan pemanfaatan
berbeda-beda antara satu dan lainnya. Ras-ras kelinci tersebut antara
lain sebagai berikut :
1.
Angora
Asal usul kelinci ras Angora kurang
jelas. Konon, berasal dari kelinci liar yang berkembang secara mutasi dengan
spesifik berbulu panjang. Angora pertama kali di temukan dan di bawa oleh
pelaut Inggris, kemudian di bawa ke Perancis tahun 1723. Tahun 1777 Angora
menyebar ke Jerman . Tahun 1920 meluas ke negara-negara Eropa Timur, Jepang,
Kanada, dan Amerika Serikat. Sampai kini Prancis menjadi pusat peternakan
kelinci Angora terbesar yang menghasilkan wool. Angora dewasa berbobot 2.7 kg,
baik jantan maupun betina. Pertumbuhan bulunya yang sangat cepat yakni 2.5 cm
per bulan, membuat kita hatus rajin mencukurnya 6-8 cm tiap tiga bulannya.
2. Lyon
Sesungguhnya lyon adalah angora
inggris yang kupingnya pendek, wajahnya di penuhi bulu-bulu panjang, mirip
seperti lion (singa).
3. American
Chinchilla
Kelinci ras ini dibedakan jadi tiga
tipe, yaitu standar (bobot dewasa 2.5-3 kg), besar (bobot dewasa 4.5-5 kg),
giant (bobot dewasa 6-7 kg). Semua di manfaatkan untuk ternak dwiguna yaitu
produksi fur dan daging. Kelinci raksasa alias Giant Chinchilla merupakan hasil
persilangan antara Standard Chinchilla dan Flemish Giant.
4. Dutch
Ras dutch (Belanda) sangat terkenal
di seluruh dunia sebagai hewan hias piaraan. bobot dewasa jantan dan betina
antara 1.5-2,5 kg. Betina bersifat keibuan fertilitasnya tinggi. Setiap kali
melahirkan, kelinci menghasilkan anak 7-8 ekor. Warna bulunya khas, melingkar
seperti pelana berwarna putih dari punggung terus ke leher sampai kaki depan
bagian belakang dan kepala hitam,cokelat atau abu-abu.Moncong dan dahi putih.
Kaki depan seluruhnya putih.Kaki belakang hitam atau warna lain dengan ujung
kaki putih.Ada pula yang sekaligus memiliki 3 macam warna, sering di sebut
Tricolored Dutch.
4. English
Spot
Ras ini berwarna putih dengan
tutul-tutul hitam. Sepanjang punggung ada garis hitam, dari pangkal telinga
memanjang sampai ke ujung ekor. Perut bertutul-tutul hitam seperti puting susu.
Telinga hitam, mata dilingkari bulu hitam, sehingga tampak seperti memakai kaca
mata. Hidung diliputi bulu hitam berbentuk kupu-kupu.
5. Himalayan
Banyak yang meyakini asalnya dari
Cina sebab di sana banyak di jumpai kelinci ini. Mula-mula di bawa dari cina ke
Eropa sebagai pengisi kebun binatang dan dikenal dengan nama ‘Kelinci hidung
hitam dari Cina’. Warna hitam pada kaki mulai timbul pada umur 3-4 minggu,
mula-mula pucat lalu menjadi hitam. Himalayan yang disilangkan dengan New
Zealand White, anak-anaknya menyerupai Himalayan. Kalau disilangkan dengan
kelinci berwarna lain, keturunannya tak ada yang menyerupai Himalayan.
6. Flemish
Giant
Kelinci jenis ini termasuk ukuran
yang cukup besar dari jenis-jenis kelinci yang lain.
7. Havana
Ras ini
bertumbuh pendek, kepalanya kecil dan pendek, tapi lebar. Matanya biasanya
bercahaya merah delima, telinganya berdiri tegak dengan dasar telinga
lebar.Pantat dan kaki belakangnya bulat, berisi penuh. Warna
bulunya hitam,biru, dan coklat.
8. Lop
Jenis ini termasuk yang favorit
saya, memiiki ciri khas kepala lebar mata hitam dan telinganya koploh atau
menggatung jatuh kebawah. Telinganya panjang, lebar, tebal, menggantung
dari samping kepala ke bawah tetapi tidak sampai menggeser di tanah. Diantara
macam-macam Lop, yang paling terkenal English Lop.
9. Nederland
Dwarf
Ras kelinci kerdil ini berasal dari
Belanda, sering juga di panggil kelinci mini, karena jenis ini merupakan jenis
kelinci terkecil didunia. Bobot dewasa nya hanya 0.9 kg.Bentuk tubuhnya pendek,
kepalanya agak bulat.
10. New
Zealand White
Ras ini merupakan kelinci albino,
tak mempunyai bulu yang mengandung pigmen. Bulunya putih mulus, padat, tebal
dan agak kasar kalo di raba. Mata merah,asalnya dari New Zealand, makanya dia
punya nama New Zealand White.
11. Polish
Ras ini merupakan kelinci kecil,
hampir mirip dengan Nederland Dwarf, hanya sedikit lebih besar. Kepala bulat,
telinga tegak sekitar 6 cm panjangnya.Matanya merah delima atau biru.
12. Rex
Sebenarnya Rex termasuk kelinci
baru. Ras ini mulai di kenal di Amerika Serikat sejak tahun 1980-an, sebagai
binatang kontes.Yang paling spesial dari Rex yaitu bulunya yang halussss
banget. Apalagi kalo si Rex ini hidup di lingkungan yang bersuhu berkisar 5-15
C,makin rendah suhu lingkungan, makin indah dan bagus mutu bulunya. Ras Rex
yang paling terkenal adalah White Rex, yang berbulu putih mulus dan tebal.
Kualitas bulunya sangat baik, lembut seperti beludru. Ras ini juga di sebut
Ermine Rex.
13. Satin
Ras satin berbulu tebal, badannya
panjang, kepala lebar, leher pendek, telinganya yang lebar tampak seimbang
dengan badannya. Tulang-tulangnya tampak kuat. Kakinya lurus. Kukunya hitam
gelap.
14. Tan
Ras ini termasuk kelinci kelinci
kecil, berwarna cokelat kemerah-merahan.Warnyanya jelas, terang, terdapat di
bawah dagu sampai ke dada, tengkuk, dan bawah ekor. Bagian perut sampai bagian
sebelah dalam kaki depan juga berwarna cokelat kemerah-merahan. Telapak kakinya
putih.
15.
Californian
Kelinci ini merupakan hasil
persilangan keturunan hasil kawin silang Himalayan dan Chinchilla dengan New
Zealand White. Bulunya putih dengan telinga,
hidung, ekor, dan kaki kelabu tua atau hitam. Warna hitam di hidung bisa
mencapai separuh muka. Bobot kelinci dewasa jantan ideal 3.6 -4.5 kg, betina
4.3 – 4.7 kg. Punggung sedikit membulat, bagian samping dan bahu penuh berisi
daging. Induk dapat mengasuh anak-anaknya dengan baik, jumlah anak yang
dilahirkan per tahun bisa mencapai 48 ekor. Bobot umur 60 hari rata-rata 1.8
kg. Alias, jenis ini kebanyakan indukan yang penyanyang.
16. Champagne d’Argent
Prancis, yaitu
distrik Champagne. Diternakan untuk diambi fur-nya.Kelinci ini, di Amerika
dikenal sebagai French Silver, karena warna bulunya putih perak.Kata Argente
dari bahasa Prancis yang berarti perak.Kelinci ini merupakan penghasi daging
yang baik.Bobot dewasa rata-rata 3.6 kg. Pada saat lahir berwarna hitam,
setelah umur 3-4 bulan berubah perakatau putih susu dengan warna kulit biru
tua, dan ketika dewasa berbulu biru dengan ujung putih perak.Warna bulunya
merata diseluruh tubuh, termasuk kepala, telinga, dan kaki. Telinga tegak,
ujung membulat. Anak umur 5 minggu berbobot 1.8 – 2.7 kg.
17. Carolina
Ras ini berasal
dari hasil persilangan antarspesies New Zealand White. Bulunya putih,
pertumbuhannya cepat, dan daya reproduksinya tinggi. Penampilannya lebih besar
dan lebih putih daripada New Zealand White, terutama yang berkelamin jantan.
Memiliki daya tahan tubuh yang tinggi, sehingga cukup kuat terhadap serangan
penyakit dan mampu hidup pada kondisi di bawah normal.
18. Checkered Giant
Ras ini berasal
dari Jerman. Badan panjang, punggung melengkung dengan baik. Paha dan pinggul lebar. Di ternakkan untuk di ambil dagingnya.Bobot dewasa
ideal jantan 5 kg, betina 5.4 kg. Dibedakan atas dua warna, yaitu
hitam dan biru.
19. Siamese
Sable
Ras ini
memiliki pola warna seperti bulu kucing siam. Peternak membedakan warnanya
dalam tiga corak, yaitu cokleat muda, agak cokelat muda dan agak cokelat di
sebut Siamese Sable. Bobot dewasa, jantan maupun betina, antara 2.25 – 3.5
kg.
20. Silver
Ras asli kelinci ini adalah Silver
Grey, berwarna perak abu-abu. Warna bulunya hitam, di bagian dalam biru-hita
diselingi bul u penutup perak keputih-putihan. Warna perak inilah yang membuat
kelinci Silver terlihat cantik dan menarik. Selain silver
Grey, ada pula Silver Fawn (perak coklat mudah kekuningan), Siver Brown (perak
coklat), dan Silver Fox (warna utama hitam dengan kombinasi biur, coklat, dan
ungu). Kelinci Silver memiliki proporsi tubuh yang baik, otot-otot kuat,
kepala pendek, telinga pendek, kaki pendek dan kuat. Bobot kelinci Silver Grey,
SIlver Fawn, dan Silver Brown dewasa, jantan maupun betina 2,7 – 3,2 g. Silver
Fox merupakan hasil persilangan dengan Chinchilla, bobot kelinci dewasa jantan
3.6 – 5 kg, betina 4,0 – 5,45 kg.
Anak-anak SIlver tidak mempunyai
bulu perak sampai umur 2-3 bulan. Warna perak mulai tumbuh dari kaki, kepala,
telinga, baru ke seluruh tubuh setelah umur 5 bulan. Kelinci Silver di ternak
terutama untuk di ambil bulunya.
B.
Pemilihan Lokasi
Kandang
Lokasi usaha pembibitan kelinci harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Sesuai dengan Rencana
Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR) daerah
setempat yang dibuktikan dengan izin lokasi/HGU;
b. Tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum setempat yang dibuktikan dengan izin tempat usaha;
c. Letak dan ketinggian
lokasi terhadap wilayah sekitarnya harus memperhatikan lingkungan dan topografi, sehingga kotoran
dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan .
d. Kondisi lingkungan yang
nyaman bagi kelinci untuk tumbuh dan berkembang biak pada suhu 18 – 22 OC
e. Mempunyai jarak minimal
1000 (seribu) meter dari pembibitan unggas.
f. Lahan bebas dari jasad
renik yang membahayakan ternak dan manusia;
g. Luas lahan sesuai
kapasitas produksi.
h. Tersedia sumber air
yang cukup dan memenuhi baku mutu air sesuai dengan peruntukannya.
i. Tersedia sumber energi yang cukup untuk penerangan dan operasional pembibitan.
(Deptan,
2011).
C. Pemilihan Bibit
Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci
tersebut.Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex
merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian,
Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak
yang cocok dipelihara (M.Yunus dan S. Minarti, 1990 )
Bila peternakan bertujuan
untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan
perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit
yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk
keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat,
mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak( B.Sarwono
1985 ).
D.
Persipan Kandang
Fungsi kandang sebagai
tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21 oC, sirkulasi udara
lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi ternak dari predator.
Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk
induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk
pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih.
Untuk
menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan
betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor
betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm.
Menurut bentuknya kandang
kelinci dibagi menjadi:
1) Kandang sistem postal,
tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan
dan cocok untuk kelinci muda.
2) Kandang sistem ranch ;
dilengkapi dengan halaman pengumbaran.
3) Kandang battery; mirip
sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery
(bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid).
(Kartadisastra, 1995).
E.
Pakan
Pakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam
pemeliharaan ternak, selain faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik, sehingga
keberhasilan usaha peternakan banyak
ditentukan oleh pakan yang diberikan. Pemberian pakan dalam usaha peternakan perlu memperhatikan pemilihan bahan pakan sebagai penyusun ransum yang sesuai dengan kondisi faali dan seturut kemampuan fisiologis
pencernaan dari ternak target (lestari, 2010)
Pakan yang diberikan dapat berupa hijauan dan konsentrat.
1. Komposisi pakan
berdasarkan kebutuhan zat gizi menurut fase produksi.
2. Keragaman mutu bahan baku pakan cukup tinggi, disarankan kebutuhan zat gizi dinaikan 1-2%;
3. Pakan yang diberikan berasal dari pakan yang diolah sendiri atau pakan yang telah terdaftar atau berlabel.
4. Pakan yang diberikan
tidak boleh tercemar bahan beracun.
Pakan dan minum
diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang
dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit/secukupnya dan pukul
18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Pemberian air minum
perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.
Tempat pakan
konsentrat atau pellet bisa terbuat dari plastic atau bahan lain semisal
almunium atau terbuat dari semen. Kelinci akan bernafsu untuk minum dengan cara
menjilati bagian ujung botol minum.
Sebagai pengganti botol menggantinya dengan menggunakan botol air mineral yang
dipasang terbalik tutup berada di bawah, pada atas
tutup botol dilubagi dengan paku, sehingga
saat kelinci menjilat lubang tersebut maka air akan menetes keluar.
F.
Reproduksi
Kelinci adalah hewan yang memiliki kemampuan besar
dalam hal beranak . kemampuan setiap betina dalam melahirkan rata-rata 6 – 8
ekor, terkadang hanya 2, namun bisa pula 10 – 12 ekor. Dewasa kelaminnya dimulai dari umur 3 bulan keatas. Namun untuk
menghasilkan ovum yang baik pada umur 5,5 bulan keatas. Sedangkan untuk
pejantan umur 6 bulan. Kelinci betina
tipe kecil dewasa kelaminya 3- 4 bulan, tipe sedang 5-6 bulan, dan tipe
besar 7-8 bulan. Cepat lambatnya dewasa kelamin dipengaruhi oleh faktor
individu, lokasi peternakan ,pakan dan menejemen pemeliharaan ( whendarto dan madyana
1999).
Perkawinan harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut:
a. Umur bibit betina siap kawin 5-6 bulan
b. Umur bibit pejantan 6-7 bulan
c. Betina birahi ditandai dengan vulva yang berwarna merah dan bengkak, dan
dapat dirangsang dengan sentuhan jari pada
genital betina
d. Sistim perkawinan dapat dilakukan dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin alam
e. Kawin alam dilakukan dengan membawa kelinci betina ke kandang kelinci pejantan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 5
f. IB menggunakan semen beku atau semen cair dari pejantan yang sudah
teruji kualitasnya dan dinyatakan bebas
dari penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui semen
g. Dalam pelaksanaan kawin alam maupun IB harus dilakukan pengaturan
penggunaan pejantan atau semen
beku/semen cair untuk menghindari terjadinya kawin sedarah (inbreeding).
( Deptan, 2011).
Lama kebuntingan pada ternak kelinci
berkisar antara 28 – 35 hari. Perkembangbiakan kelinci dapat diatur dengan
kelairan terencana. Kelahiran untuk kelinci biasanya terjadi 31 – 32 hari
sesudah perkawinan berlangsung. Adapun rata-rata kebuntingan pada ternak
kelinci adalah 31 hari, yang dipengaruhi oleh waktu kawin.pada saat bunting
kebutuhan akan air sangat perlu diperhatikan ( Dewi lestari s, 2008).
Kelahiran
kelinci yang sering terjadi diwaktu malam hari. Setelah melahirkan
anak-anaknya, induk kelinci istirahat sampai pagi hari. Anak-anak kelinci yang
dilahirkan dalam keadaan lemah dengan mata tertutup dan tidak berbulu itu akan
tinggal di dalam sarang sampai lebih kurang 10 hari. Sumber pakannnya
adalah susu induknya. Pada hari ke 11 mereka mulai membuka matanya
dan mulai keluar dari sarang untuk makan dan minum pada hari ke 20. Apabila
anak-anak kelinci keluar dari sarangnya sebelum hari ke 20, hal itu menendakan
bahwa induk kelinci tidak mempunyai cukup air susu. Hal ini dapat menyebabkan
kematian pada anak yang baru lahir apabila ditangani dengan baik. Anak-anak
yang masih sangat kecil selalu didalam sarang dan mereka di susui pada malam
hari atau pagi hari saja ( AAk, 1982 : kartadisastra, 1994)
Pemeriksaan kehamilan
pada kelinci dilakukan oleh peternak saat usia kandungan 10 – 15 hari dimana
dengan melakukan palpasi pada perut bagian kanan.
Masa kehamilan induk kelinci adalah 7 – 30 hari semenjak kopulasi. Pada umumnya induk
melahirkan pada usia 29 dan 30 hari , namun bisa juga lebih cepat dan bisa pula
lebih lambat (sekitar 33 hari).
G. Pengendalian Penyakit
1. Penyakit Kelinci
Beberapa penyakit yang menyerang pada kelinci yaitu :
1) Bisul
Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di
bawah kulit.
Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor
selanjutnya diberi Jodium.
2) Kudis
Penyebab: Darcoptes scabiei.
Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh.
Pengendalian: dengan antibiotik salep.
3) Eksim
Penyebab: kotoran yang menempel di kulit.
Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl.
4) Penyakit telinga
Penyebab: kutu.
Pengendalian: meneteskan minyak nabati.
5) Penyakit kulit kepala
Penyebab: jamur.
Gejala: timbul semacam sisik pada kepala.
Pengendalian: dengan bubuk belerang.
6) Penyakit mata
Penyebab: bakteri dan debu.
Gejala: mata basah dan berair terus.
Pengendalian: dengan salep mata.
7) Mastitis
Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat
keluar.
Gejala: putingmengeras dan panas bila dipegang.
Pengendalian: dengan tidak menyapihanak terlalu
mendadak.
2. Pengamanan terhadap
kemungkinan penularan penyakit
a. Setiap ternak yang masuk dari luar wilayah (dalam negeri/luar
negeri) ke dalam suatu pembibitan harus bebas
dari penyakit hewan menular sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
b. Setiap ternak bibit yang masuk ke dalam lingkungan pembibitan harus
dilakukan isolasi di kandang isolasi/karantina sekurang-kurangnya selama 14
(empat belas) hari, disesuaikan dengan jenis penyakit dari daerah asal;
c. Lokasi pembibitan
harus memiliki pagar untuk memudahkan kontrol keluar masuknya individu,
kendaraan, barang dan hewan lain yang berpotensi membawa penyakit hewan;
d. Melakukan desinfeksi secara berkala terhadap kandang, peralatan,
lingkungan/bangunan dengan penyemprotan dan pembasmian terhadap hama-hama
lainnya dengan menggunakan desinfektan yang ramah lingkungan atau terintegrasi.
(Deptan, 2011).
H. Kebutuhan Zat Pakan
Kelinci sedang tumbuh (4-12 minggu)
membutuhkan serat kasar 14 persen, lemak 3 persen, protein kasar 17 persen,
energi 2500 kcal/kg, kalsium 0,5 persen dan phospor 0,3 persen.
Kelinci sedang menyusui membutuhkan
serat kasar 14 persen, lemak 3 persen, protein kasar 15 persen, energi 2500
kcal/kg, kalsium 1,1 persen dan phospor 0,8 persen.
I.
Pascapanen
1. Stoving
Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum
potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .
2. Pemotongan
Pemotongan biasa, sama seperti
memotong ternak lain.
3. Pengulitan
Dilaksanakan mulai dari kaki
belakang ke arah kepala dengan posisi kelinci digantung.
4. Pengeluaran Jeroan
Kulit perut disayat dari pusar ke
ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan paru-paru dikeluarkan. Yang
perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah karena dapat mempengaruhi
kualitas karkas.
5. Pemotongan Karkas
Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2
potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2 potong bagian dada dan 2 potong
bagian belakang.
Kelinci disembelih dengan cara
memotong vena jugularis, arteri carotis, oesophagus dan trachea.
Kelinci yang telah disembelih dipisahkan kepala, kaki yang dipotong bagian
persendian carpus dan tarsus, dikuliti, dikeluarkan isi rongga
dada dan rongga perut kecuali hati, jantung dan ginjal untuk memperoleh karkas.
Untuk menyembelih kelinci diperlukan dua orang, satu orang memegang, sedang
yang lain menyembelih dengan menggunakan pisau tajam.
DAFTAR
PUSTAKA
Susandari L, Lestari C.M.S. dan Wahyuni H.I., 2004. Komposisi lemak tubuh
kelinci yang mendapat pakan pellet dengan berbagai aras lisin. Prosiding
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 2: 663-669.
Lestari C.M.S., 2004. Penampilan produksi kelinci lokal menggunakan pakan
pellet dengan berbagai aras kulit biji kedelai. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner. 2: 670-675.
Kartadisastra, H., R., 1994. Beternak Kelinci Unggul. Cetakan pertama.
Kanisius. Yogyakarta.
Sarwono, B., 1995. Beternak Kelinci Unggul. Cetakan XI. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sarwono, B., 2002. Kelinci Potong dan Hias. Cetakan ke tujuh. AgroMedia
Pustaka. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar