Kamis, 08 Oktober 2015

Beternak Kelinci


PENDAHULUAN
Kelinci adalah hewan jenis purba pada mulanya kelinci digolongkan sebagai hewan jenis “ Rodentia” karena sering mengerat. Tahun 1912 katagori Rodentia digugurkan karena kelinci memiliki perbedaan tertentu dalam giginya. Istilah yang tepat ”Logomorpha’ dan spesifikasinya masuk katagori Lagormopha – Leporidae sebagaimana hewan jenis Hare.
Klasifikasi taksonomi kelinci (Orcytolagus cuniculu)menurut sistem binomial adalah sebagai berikut:
Kelas : mamalia
Ordo : Lagomorpha
Family : Leporidae
Sub family : leporine
Genus : Lepus, Oricptolagus
Spesies : Lepus spp, Oricptolagus
Menurut tipenya kelinci dibagia atas tiga kelas yaitu, kelinci tipe kecil        ( berbobot 0,9 – 2 kg) dewasa kelamin umur 3 -4 bulan, tipe sedang ( berbobot 2 – 4 kg) dewasa kelamin 5 – 6 bulan, dan tipe berat ( berbobot 5 – 8 kg ) dewasa kelamin umur 7 – 8 bulan ( Dewi lestari s, 2008). Untuk melakukan budidaya kelinci perlu diperhatikan beberapa aspek, dimana aspek ini merupakan penentu keberhasilan dalam beternak kelinci.

 

KELINCI (Orcytolagus cuniculus)

A.      Jenis – Jenis Kelinci
Ras kelinci memiliki ukuran, warna dan panjang bulu, pertumbuhan dan pemanfaatan berbeda-beda antara satu dan lainnya.  Ras-ras kelinci tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Angora
Asal usul kelinci ras Angora kurang jelas. Konon, berasal dari kelinci liar yang berkembang secara mutasi dengan spesifik berbulu panjang. Angora pertama kali di temukan dan di bawa oleh pelaut Inggris, kemudian di bawa ke Perancis tahun 1723. Tahun 1777 Angora menyebar ke Jerman . Tahun 1920 meluas ke negara-negara Eropa Timur, Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat. Sampai kini Prancis menjadi pusat peternakan kelinci Angora terbesar yang menghasilkan wool. Angora dewasa berbobot 2.7 kg, baik jantan maupun betina. Pertumbuhan bulunya yang sangat cepat yakni 2.5 cm per bulan, membuat kita hatus rajin mencukurnya 6-8 cm tiap tiga bulannya.
2. Lyon
Sesungguhnya lyon adalah angora inggris yang kupingnya pendek, wajahnya di penuhi bulu-bulu panjang, mirip seperti lion (singa).
3. American Chinchilla
Kelinci ras ini dibedakan jadi tiga tipe, yaitu standar (bobot dewasa 2.5-3 kg), besar (bobot dewasa 4.5-5 kg), giant (bobot dewasa 6-7 kg). Semua di manfaatkan untuk ternak dwiguna yaitu produksi fur dan daging. Kelinci raksasa alias Giant Chinchilla merupakan hasil persilangan antara Standard Chinchilla dan Flemish Giant.
4. Dutch
Ras dutch (Belanda) sangat terkenal di seluruh dunia sebagai hewan hias piaraan. bobot dewasa jantan dan betina antara 1.5-2,5 kg. Betina bersifat keibuan fertilitasnya tinggi. Setiap kali melahirkan, kelinci menghasilkan anak 7-8 ekor. Warna bulunya khas, melingkar seperti pelana berwarna putih dari punggung terus ke leher sampai kaki depan bagian belakang dan kepala hitam,cokelat atau abu-abu.Moncong dan dahi putih. Kaki depan seluruhnya putih.Kaki belakang hitam atau warna lain dengan ujung kaki putih.Ada pula yang sekaligus memiliki 3 macam warna, sering di sebut Tricolored Dutch.
4. English Spot
Ras ini berwarna putih dengan tutul-tutul hitam. Sepanjang punggung ada garis hitam, dari pangkal telinga memanjang sampai ke ujung ekor. Perut bertutul-tutul hitam seperti puting susu. Telinga hitam, mata dilingkari bulu hitam, sehingga tampak seperti memakai kaca mata. Hidung diliputi bulu hitam berbentuk kupu-kupu.
5. Himalayan
Banyak yang meyakini asalnya dari Cina sebab di sana banyak di jumpai kelinci ini. Mula-mula di bawa dari cina ke Eropa sebagai pengisi kebun binatang dan dikenal dengan nama ‘Kelinci hidung hitam dari Cina’. Warna hitam pada kaki mulai timbul pada umur 3-4 minggu, mula-mula pucat lalu menjadi hitam. Himalayan yang disilangkan dengan New Zealand White, anak-anaknya menyerupai Himalayan. Kalau disilangkan dengan kelinci berwarna lain, keturunannya tak ada yang menyerupai Himalayan.

6. Flemish Giant
Kelinci jenis ini termasuk ukuran yang cukup besar dari jenis-jenis kelinci yang lain.
7. Havana
Ras ini bertumbuh pendek, kepalanya kecil dan pendek, tapi lebar. Matanya biasanya bercahaya merah delima, telinganya berdiri tegak dengan dasar telinga lebar.Pantat dan kaki belakangnya bulat, berisi penuh. Warna bulunya hitam,biru, dan coklat.
8. Lop
Jenis ini termasuk yang favorit saya, memiiki ciri khas kepala lebar mata hitam dan telinganya koploh atau menggatung jatuh kebawah.  Telinganya panjang, lebar, tebal, menggantung dari samping kepala ke bawah tetapi tidak sampai menggeser di tanah. Diantara macam-macam Lop, yang paling terkenal English Lop.
9. Nederland Dwarf
Ras kelinci kerdil ini berasal dari Belanda, sering juga di panggil kelinci mini, karena jenis ini merupakan jenis kelinci terkecil didunia. Bobot dewasa nya hanya 0.9 kg.Bentuk tubuhnya pendek, kepalanya agak bulat.
10. New Zealand White
Ras ini merupakan kelinci albino, tak mempunyai bulu yang mengandung pigmen. Bulunya putih mulus, padat, tebal dan agak kasar kalo di raba. Mata merah,asalnya dari New Zealand, makanya dia punya nama New Zealand White.
11. Polish
Ras ini merupakan kelinci kecil, hampir mirip dengan Nederland Dwarf, hanya sedikit lebih besar. Kepala bulat, telinga tegak sekitar 6 cm panjangnya.Matanya merah delima atau biru.
12. Rex
Sebenarnya Rex termasuk kelinci baru. Ras ini mulai di kenal di Amerika Serikat sejak tahun 1980-an, sebagai binatang kontes.Yang paling spesial dari Rex yaitu bulunya yang halussss banget. Apalagi kalo si Rex ini hidup di lingkungan yang bersuhu berkisar 5-15 C,makin rendah suhu lingkungan, makin indah dan bagus mutu bulunya. Ras Rex yang paling terkenal adalah White Rex, yang berbulu putih mulus dan tebal. Kualitas bulunya sangat baik, lembut seperti beludru. Ras ini juga di sebut Ermine Rex.
13. Satin
Ras satin berbulu tebal, badannya panjang, kepala lebar, leher pendek, telinganya yang lebar tampak seimbang dengan badannya. Tulang-tulangnya tampak kuat. Kakinya lurus. Kukunya hitam gelap.
14. Tan
Ras ini termasuk kelinci kelinci kecil, berwarna cokelat kemerah-merahan.Warnyanya jelas, terang, terdapat di bawah dagu sampai ke dada, tengkuk, dan bawah ekor. Bagian perut sampai bagian sebelah dalam kaki depan juga berwarna cokelat kemerah-merahan. Telapak kakinya putih.
15. Californian
Kelinci ini merupakan hasil persilangan keturunan hasil kawin silang Himalayan dan Chinchilla dengan New Zealand White. Bulunya putih dengan telinga, hidung, ekor, dan kaki kelabu tua atau hitam. Warna hitam di hidung bisa mencapai separuh muka. Bobot kelinci dewasa jantan ideal 3.6 -4.5 kg, betina 4.3 – 4.7 kg. Punggung sedikit membulat, bagian samping dan bahu penuh berisi daging. Induk dapat mengasuh anak-anaknya dengan baik, jumlah anak yang dilahirkan per tahun bisa mencapai 48 ekor. Bobot umur 60 hari rata-rata 1.8 kg. Alias, jenis ini kebanyakan indukan yang penyanyang.
16. Champagne d’Argent
Prancis, yaitu distrik Champagne. Diternakan untuk diambi fur-nya.Kelinci ini, di Amerika dikenal sebagai French Silver, karena warna bulunya putih perak.Kata Argente dari bahasa Prancis yang berarti perak.Kelinci ini merupakan penghasi daging yang baik.Bobot dewasa rata-rata 3.6 kg. Pada saat lahir berwarna hitam, setelah umur 3-4 bulan berubah perakatau putih susu dengan warna kulit biru tua, dan ketika dewasa berbulu biru dengan ujung putih perak.Warna bulunya merata diseluruh tubuh, termasuk kepala, telinga, dan kaki. Telinga tegak, ujung membulat. Anak umur 5 minggu berbobot 1.8 – 2.7 kg.
17. Carolina
Ras ini berasal dari hasil persilangan antarspesies New Zealand White. Bulunya putih, pertumbuhannya cepat, dan daya reproduksinya tinggi. Penampilannya lebih besar dan lebih putih daripada New Zealand White, terutama yang berkelamin jantan. Memiliki daya tahan tubuh yang tinggi, sehingga cukup kuat terhadap serangan penyakit dan mampu hidup pada kondisi di bawah normal.
18. Checkered Giant
Ras ini berasal dari Jerman. Badan panjang, punggung melengkung dengan baik. Paha dan pinggul lebar. Di ternakkan untuk di ambil dagingnya.Bobot dewasa ideal jantan 5 kg, betina 5.4 kg. Dibedakan atas dua warna, yaitu hitam dan biru.
19. Siamese Sable
Ras ini memiliki pola warna seperti bulu kucing siam. Peternak membedakan warnanya dalam tiga corak, yaitu cokleat muda, agak cokelat muda dan agak cokelat di sebut Siamese Sable. Bobot dewasa, jantan maupun betina, antara 2.25 – 3.5 kg.
20. Silver
Ras asli kelinci ini adalah Silver Grey, berwarna perak abu-abu. Warna bulunya hitam, di bagian dalam biru-hita diselingi bul u penutup perak keputih-putihan. Warna perak inilah yang membuat kelinci Silver terlihat cantik dan menarik. Selain silver Grey, ada pula Silver Fawn (perak coklat mudah kekuningan), Siver Brown (perak coklat), dan Silver Fox (warna utama hitam dengan kombinasi biur, coklat, dan ungu).  Kelinci Silver memiliki proporsi tubuh yang baik, otot-otot kuat, kepala pendek, telinga pendek, kaki pendek dan kuat. Bobot kelinci Silver Grey, SIlver Fawn, dan Silver Brown dewasa, jantan maupun betina 2,7 – 3,2 g. Silver Fox merupakan hasil persilangan dengan Chinchilla, bobot kelinci dewasa jantan 3.6 – 5 kg, betina 4,0 – 5,45 kg.
Anak-anak SIlver tidak mempunyai bulu perak sampai umur 2-3 bulan. Warna perak mulai tumbuh dari kaki, kepala, telinga, baru ke seluruh tubuh setelah umur 5 bulan. Kelinci Silver di ternak terutama untuk di ambil bulunya.



B.       Pemilihan Lokasi Kandang
Lokasi usaha pembibitan kelinci harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a.   Sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail   Tata  Ruang (RDTR) daerah setempat yang dibuktikan dengan izin lokasi/HGU;
b. Tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum setempat yang    dibuktikan dengan izin tempat usaha;
c.   Letak dan ketinggian lokasi terhadap wilayah sekitarnya harus memperhatikan  lingkungan dan topografi, sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan .
d.   Kondisi lingkungan yang nyaman bagi kelinci untuk tumbuh dan berkembang   biak pada suhu 18 – 22 OC
e.    Mempunyai jarak minimal 1000 (seribu) meter dari  pembibitan unggas.
f.    Lahan bebas dari jasad renik yang membahayakan ternak dan manusia;
g.    Luas lahan sesuai kapasitas produksi.
h.    Tersedia sumber air yang cukup dan memenuhi baku mutu air sesuai dengan        peruntukannya.
i.  Tersedia sumber energi yang cukup untuk penerangan dan operasional  pembibitan.
(Deptan, 2011).

C.      Pemilihan Bibit  
            Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut.Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara (M.Yunus dan S. Minarti, 1990 )
            Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak( B.Sarwono 1985 ).

D.           Persipan Kandang                  
             Fungsi kandang sebagai tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21 oC, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi ternak dari predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih.
            Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm.
            Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:
1)    Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan  cocok untuk kelinci muda.
2)    Kandang sistem ranch ; dilengkapi dengan halaman pengumbaran.
3)    Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid).
(Kartadisastra, 1995).

E.       Pakan
Pakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pemeliharaan ternak, selain faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik, sehingga keberhasilan usaha peternakan banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan. Pemberian pakan dalam usaha peternakan perlu memperhatikan pemilihan bahan pakan sebagai penyusun ransum yang sesuai dengan kondisi faali dan seturut kemampuan fisiologis pencernaan dari ternak target (lestari, 2010)
            Pakan yang diberikan dapat berupa hijauan dan konsentrat.
1.   Komposisi pakan berdasarkan kebutuhan zat gizi menurut fase produksi.
2.  Keragaman mutu bahan baku pakan cukup tinggi, disarankan kebutuhan zat gizi dinaikan 1-2%;
3.    Pakan yang diberikan berasal dari pakan yang diolah sendiri atau pakan yang telah terdaftar atau berlabel.
4.    Pakan yang diberikan tidak boleh tercemar bahan beracun.
             Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit/secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.
            Tempat pakan konsentrat atau pellet bisa terbuat dari plastic atau bahan lain semisal almunium atau terbuat dari semen. Kelinci akan bernafsu untuk minum dengan cara menjilati bagian         ujung botol minum. Sebagai pengganti botol menggantinya dengan menggunakan botol air mineral yang dipasang terbalik tutup berada di bawah, pada atas tutup botol dilubagi dengan paku, sehingga saat kelinci menjilat lubang tersebut maka air akan menetes keluar.

F.       Reproduksi
Kelinci adalah hewan yang memiliki kemampuan besar dalam hal beranak . kemampuan setiap betina dalam melahirkan rata-rata 6 – 8 ekor, terkadang hanya 2, namun bisa pula 10 – 12 ekor. Dewasa kelaminnya dimulai dari umur 3 bulan keatas. Namun untuk menghasilkan ovum yang baik pada umur 5,5 bulan keatas. Sedangkan untuk pejantan umur 6 bulan. Kelinci betina  tipe kecil dewasa kelaminya 3- 4 bulan, tipe sedang 5-6 bulan, dan tipe besar 7-8 bulan. Cepat lambatnya dewasa kelamin dipengaruhi oleh faktor individu, lokasi peternakan ,pakan dan menejemen pemeliharaan ( whendarto dan madyana 1999).
            Perkawinan harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut:
a. Umur bibit betina siap kawin 5-6 bulan
b. Umur bibit pejantan 6-7 bulan
c. Betina birahi ditandai dengan vulva yang berwarna merah dan bengkak, dan dapat dirangsang dengan sentuhan jari pada genital betina
d. Sistim perkawinan dapat dilakukan dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin alam
e. Kawin alam dilakukan dengan membawa kelinci betina ke kandang kelinci pejantan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 5
f. IB menggunakan semen beku atau semen cair dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya   dan dinyatakan bebas dari penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui semen
g. Dalam pelaksanaan kawin alam maupun IB harus dilakukan pengaturan penggunaan   pejantan atau semen beku/semen cair untuk menghindari terjadinya kawin sedarah (inbreeding).    
( Deptan, 2011).
            Lama kebuntingan pada ternak kelinci berkisar antara 28 – 35 hari. Perkembangbiakan kelinci dapat diatur dengan kelairan terencana. Kelahiran untuk kelinci biasanya terjadi 31 – 32 hari sesudah perkawinan berlangsung. Adapun rata-rata kebuntingan pada ternak kelinci adalah 31 hari, yang dipengaruhi oleh waktu kawin.pada saat bunting kebutuhan akan air sangat perlu diperhatikan ( Dewi lestari s, 2008).
Kelahiran kelinci yang sering terjadi diwaktu malam hari. Setelah melahirkan anak-anaknya, induk kelinci istirahat sampai pagi hari. Anak-anak kelinci yang dilahirkan dalam keadaan lemah dengan mata tertutup dan tidak berbulu itu akan tinggal di dalam sarang sampai lebih kurang 10 hari. Sumber pakannnya adalah  susu induknya.  Pada hari ke 11 mereka mulai membuka matanya dan mulai keluar dari sarang untuk makan dan minum pada hari ke 20. Apabila anak-anak kelinci keluar dari sarangnya sebelum hari ke 20, hal itu menendakan bahwa induk kelinci tidak mempunyai cukup air susu. Hal ini dapat menyebabkan kematian pada anak yang baru lahir apabila ditangani dengan baik. Anak-anak yang masih sangat kecil selalu didalam sarang dan mereka di susui pada malam hari atau pagi hari saja ( AAk, 1982 : kartadisastra, 1994)
Pemeriksaan kehamilan pada kelinci dilakukan oleh peternak saat usia kandungan 10 – 15 hari dimana dengan melakukan palpasi pada perut bagian kanan.
            Masa kehamilan induk kelinci adalah 7 – 30  hari semenjak kopulasi. Pada umumnya induk melahirkan pada usia 29 dan 30 hari , namun bisa juga lebih cepat dan bisa pula lebih lambat (sekitar 33 hari).

G.      Pengendalian Penyakit
1.  Penyakit Kelinci
Beberapa penyakit yang menyerang pada kelinci yaitu :
1) Bisul
Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit.
Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.
2) Kudis
Penyebab: Darcoptes scabiei.
Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh.
Pengendalian: dengan antibiotik salep.
3) Eksim
Penyebab: kotoran yang menempel di kulit.
Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl.

4) Penyakit telinga
Penyebab: kutu.
Pengendalian: meneteskan minyak nabati.
5) Penyakit kulit kepala
Penyebab: jamur.
Gejala: timbul semacam sisik pada kepala.
Pengendalian: dengan bubuk belerang.
6) Penyakit mata
Penyebab: bakteri dan debu.
Gejala: mata basah dan berair terus.
Pengendalian: dengan salep mata.
7) Mastitis
Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar.
Gejala: putingmengeras dan panas bila dipegang.
Pengendalian: dengan tidak menyapihanak terlalu mendadak.
2.   Pengamanan terhadap kemungkinan penularan penyakit
a.  Setiap ternak yang masuk dari luar wilayah (dalam  negeri/luar negeri) ke dalam suatu pembibitan harus bebas dari penyakit hewan menular sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b.  Setiap ternak bibit yang masuk ke dalam lingkungan pembibitan harus dilakukan isolasi di kandang isolasi/karantina sekurang-kurangnya selama 14 (empat belas) hari, disesuaikan dengan jenis penyakit dari daerah asal;
c.   Lokasi pembibitan harus memiliki pagar untuk memudahkan kontrol keluar masuknya individu, kendaraan, barang dan hewan lain yang berpotensi membawa penyakit hewan;
d. Melakukan desinfeksi secara berkala terhadap kandang, peralatan, lingkungan/bangunan dengan penyemprotan dan pembasmian terhadap hama-hama lainnya dengan menggunakan desinfektan yang ramah lingkungan atau terintegrasi.
(Deptan, 2011).

H.    Kebutuhan Zat Pakan
Kelinci sedang tumbuh (4-12 minggu) membutuhkan serat kasar 14 persen, lemak 3 persen, protein kasar 17 persen, energi 2500 kcal/kg, kalsium 0,5 persen dan phospor 0,3 persen.
Kelinci sedang menyusui membutuhkan serat kasar 14 persen, lemak 3 persen, protein kasar 15 persen, energi 2500 kcal/kg, kalsium 1,1 persen dan phospor 0,8 persen.

I.         Pascapanen
1. Stoving
Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .
2. Pemotongan
Pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain.

3. Pengulitan
Dilaksanakan mulai dari kaki belakang ke arah kepala dengan posisi kelinci digantung.
4. Pengeluaran Jeroan
Kulit perut disayat dari pusar ke ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan paru-paru dikeluarkan. Yang perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah karena dapat mempengaruhi kualitas karkas.
5. Pemotongan Karkas
Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2 potong bagian dada dan 2 potong bagian belakang.   
Kelinci disembelih dengan cara memotong vena jugularis, arteri carotis, oesophagus dan trachea. Kelinci yang telah disembelih dipisahkan kepala, kaki yang dipotong bagian persendian carpus dan tarsus, dikuliti, dikeluarkan isi rongga dada dan rongga perut kecuali hati, jantung dan ginjal untuk memperoleh karkas. Untuk menyembelih kelinci diperlukan dua orang, satu orang memegang, sedang yang lain menyembelih dengan menggunakan pisau tajam.

DAFTAR PUSTAKA
Susandari L, Lestari C.M.S. dan Wahyuni H.I., 2004. Komposisi lemak tubuh kelinci yang mendapat pakan pellet dengan berbagai aras lisin. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 2: 663-669.
Lestari C.M.S., 2004. Penampilan produksi kelinci lokal menggunakan pakan pellet dengan berbagai aras kulit biji kedelai. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 2: 670-675.
Kartadisastra, H., R., 1994. Beternak Kelinci Unggul. Cetakan pertama. Kanisius. Yogyakarta.
Sarwono, B., 1995. Beternak Kelinci Unggul. Cetakan XI. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sarwono, B., 2002. Kelinci Potong dan Hias. Cetakan ke tujuh. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar