PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Ternak
ruminansia sebagai penghasil produk ternak (daging, susu dan sebagainya) yang
sangat berguna bagi manusia tentu memiliki keterbatasan dalam tingkat
produksinya. Namun demikian manusia selalu berusaha dengan segala upaya untuk
meningkatkan produksinya lagi. Terlebih untuk negara Indonesia sebagai negara
tropis-agraris, dimana kuantitas dan kualitas rumput sangat terbatas namun
limbah pertanian yang kualitasnya rendah sangat melimpah maka fenomena nilai
konsumsi (VFI) dan kecernaan pakan menjadi rendah yang pada gilirannya
produktifitas ternak menjadi sangat terbatas.
Kemampuan rumen
dalam melakukan fermentasi akan bekerja maksimum dan akan menghasilkan produk
ternak melebihi seperti yang kita harapkan apabila kita mampu memadukan pakan
atau istilahnya memanipulasi pakan sedemikian rupa. Tujuan utama manipulasi
fermentasi rumen adalah segala upaya mengubah fermentasi di ruangan rumen
sedemikian rupa sehingga efisiensi konversi pakan pada ternak ruminansia
meningkat. Semakin rendah rasio konversi pakan semakin efisien pakan tersebut,
namun perlu diketahui bahwasanya peningkatan pertambahan bobot badan tanpa
adanya perubahan konsumsi sebagaimana pula tidak berubahnya pertambahan bobot
badan dengan menurunnya konsumsi pakan bisa dikatakan bahwa rasio konversi
pakan menurun dus pakan semakin efisien.
Manipulasi
fermentasi rumen juga termasuk berbagai upaya untuk mengubah fermentasi
sedemikian rupa sehingga kualitas produk ternak relatif berubah. Contoh :
apabila konsumen susu menghendaki susu low fat, maka manipulasi fermentasi
rumen mungkin menjadi sebuah upaya untuk memperbaiki kualitas susu low fat
tanpa mementingkan bertambahnya produksi susu. Manipulasi juga meliputi
tujuan-tujuan yang sangat spesifik yang secara langsung tidak harus berkenaan
dengan produktifitas. Sebagai contoh manipulasi yang bersifat detoksifikasi
terhadap zat-zat yang terdapat dalam pakan yang bersifat toksin.
Secara garis
besar ada 3 metode dalam memanipulasi proses-proses yang terjadi di dalam
rumen, yakni meliputi:
1. Penghambatan proses-proses tertentu
yang terjadi di dalam rumen (selektif),
2. Pengaktifan proses-proses yang tidak
berlangsung secara maksimal dan;
3. Proteksi komponen-komponen pakan
tertentu sehingga bisa lolos dari rumen tanpa ada perubahan
MANIPULASI
FERMENTASI RUMEN
Manipulasi
fermentasi rumen adalah usaha untuk mengubah fermentasi di dalam rumen
sedemikian rupa sehimgga efisiensi konversi pakan ternak ruminansia diperbaiki.
Manipulasi fermentasi rumen ini juga termasuk tujuan yang sangat spesifik tidak
berhubungan langsung dengan produktivitas, misalnya detoksifikasi konstituen
pakan yang toksik.
Ada 3 cara pokok
untuk melaksanakan manipulasi fermentasi rumen, yaitu:
1. mencegah proses tertentu
3
proses utama yang perlu dicegah dalam manipulasi fermentasi adalah proses
proteolisis, produksi methan dan biohidrogenasi.
·
Proteolisis. Kualitas
pakan ruminansia secara umum dinilai dari proporsi protein. Digesti protein
dalam rumen memerlukan banyak energy. Sebagian besar bahkan hampir seluruh
protein pakan akan didegredasi oleh mikroba rumen. Sehingga apabila ternak
ruminansia diberi pakan dengan kualitas protein yang baik hampir sama nilainya
dengan apabila diberi pakan dengan kualitas protein pakan yang jelek. Ada
inhibitor spesifik untuk enzim proteolitik, tetapi substansi tersebut umumnya
toksik. Kebanyakan usaha untuk mengurangi tingkat proteolitis dalam rumen
adalah dengan proteksi secara fisik atau kimiawi.
·
Biohidrogenasi.
Sebagian besar asam lemak berantai panjang dalam pakan adalah asam lemak tidak
jenuh. Trigliserida biji-bijian mengandung cukup banyak asam linoleik. Asam
tidak jenuh ini mengalami hidrogenasi dalam rumen menjadi asam stearat.
Biohidrogenasi dari asam lemak tidak jenuh di dalam rumen ini sebenarnya tidak
dikehendaki. Penambahan inhibitor spesifik untuk lipase dalam ransum dapat
mencegah proses biohidrogenase.
·
Produksi methan. Kira-kira 6-10% energy yang
terbentuk dalam proses digesti pakan dalam rumen hilang sebagai methan.
Produksi methan tidak dapat sepenuhnya dicegah, hal ini terjadi karena H2
yang bersifat toksik bagi mikrobia rumen akan diubah menjadi methan (CO2+
H2 CH4).
Sehingga segala sesuatu yang diusahakan untuk meningkatkan H2 akan
mencegah produksi methan. Upaya untuk meningkatkan H2 antara lain :
a.
pemberian nitrat (NO3).
Nitrat dengan adanya enzim nitrat
reduktase akan berubah menjadi NO2, yang selanjutnya dengan enzim
nitrit reduktase dan H2 akan membentuk hydroxylamine (NH2OH)
yang dapat diubah menjadi NH3.
b.
penambahan Ionephere
ionephere adalah senyawa spesifik
pada bakteri methanogenik.
c.
penambahan Metal halogen
metal halogen berfungsi sebagai
pembunuh bakteri methan.
2. mengaktifkan proses tertentu
a.
mengontrol fermentasi
b.
meningkatkan sintesis
ternak
ruminansia mampu mendegradasi pakan yang tidak dapat dicerna oleh ternak
nonruminansia. Produksi akhir dari degradasi ini adalah asam lemak terbang yang
digunakan sebagai sumber energy ternak ruminansia.
3. melindungi nutrient
Melindungi
beberapa nutrient (karbohidar, protein, lipida) dari degradasi mikrobia rumen
perlu dilakukan agar nutrient tertentu tidak hilang percuma.
Tujuann utama di
dalam melakukan manipulasi ekosistem mikrobia rumen adalah:
1. memperbaiki
digesti serat
Guna meningkatkan
laju dan tingkat degradasi serat, selulosa merupakan target utama untuk
manipulasi. Hal ini disebabkan karena selulosamerupakan polisakarida terbanyak
dalam pakan hijauan. Digestinya di dalam rumen berkisar antara 30-65% dan
mekanisme serta enzim yang terkait dalam degradasi sudah banyak dikenal.
2. mengurangi
degradasi protein atau memproduksi asam amino.
Upaya mengurangi
degradasi protein atau memproduksi asam amino lebih sukar untuk dicapai. Untuk
mengurangi kebutuhan protein pakan, disarankan bahwa produksi asam amino oleh bakteri rumen
ditingkatkan karena asam amino bebas sangat cepat didegradasi dalam rumen
membentuk gen sintetik untuk polipeptid dari asam amino yang dibutuhkan
(lysine, methionine, dan threonine).
3. memodifikasi
imbangan produk fermentasi
Imbangan tersebut
dicari yang paling cocok untuk kebutuhan ternak, yaitu imbangan antara asetat,
propionat, dan butirat. Tujuan lain adalah mengontrol konsentrasi laktatnya
atau meningkatkan degradasinya.
4. mencegah
aktivitas pertumbuhan dan metabolisme mikrobia yang tidak dikehendaki.
Target utama
adalah mencegah pertumbuhan atau aktivitas bakteri methanogenik, karena kurang
lebih 10% dari energi tercerna pakan hilang sebagai methan.
Manipulasi ekosistem rumen dapat
dilakukan melalui pendekatan pengolahan pakan (untuk meningkatkan ketersediaan
energi dan meningkatkan protein) dan melalui pemberian pakan tambahan yang dapat
menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas mikroba rumen guna meningkatkan
kecernaan dan efisiensi penggunaan pakan. Bioproses di dalam rumen dapat kita
manipulasi selama kebutuhan nutrien dari mikroba rumennya tercukupi, sebaliknya
defisiensi nutrient tertentu yang dibutuhkan oleh mikroba rumen akan mengurangi
biomasa dan akan berakibat menurunnya daya cerna pakan terutama pakan berserat.
Dengan demikian fermentasi dan sintesis
protein mikroba dalam rumen dapat ditingkatkan apabila dalam rumen tersedia
semua prekursor yang dibutuhkan. Prekursor dapat disediakan melalui pemberian suplemen
dalam ransum. Penggunaan suplemen yang dapat menstimulasi pertumbuhan dan
aktivitas mikroba rumen adalah:
Penggunaan
buffer
Penambahan buffer pada pakan
bertujuan menjaga pH rumen dan mempertahankan fermentasi normal dalam rumen.
Hal ini dapat dilihat pada bilangan keasaman (pH) rumen, kecernaan, pola fermentasi,
tekanan osmotik, produk metan, degradasi protein dan sintesis protein mikroba. Pemberian
sodium bikarbonat pada kerbau yang diberi pakan basal jerami gandum berpengaruh
secara linier terhadap konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK), ADF, NDF
dan air, namun demikian tidak berpengaruh secara nyata terhadap kecernaannya
Meningkatnya konsumsi air minum sebagai
salah satu cara untuk mempertahankan pH rumen tetap normal untuk mikroba rumen.
Efektivitas penambahan buffer tergantung pada beberapa faktor seperti
komposisi pakan, yaitu ransum dari hijauan serat sampai konsentrat. Buffer juga
mempengaruhi laju aliran digesta dalam rumen, khususnya komponen cair. Laju
aliran fraksi cair
meningkat
pada saat buffer ditambahkan ke dalam ransum dengan porsi konsentrat
lebih tinggi. Proses ini ditunjukkan
dengan konsumsi air yang meningkat seiring meningkatnya taraf NaHCO3 dalam
ransum. Dengan demikian
kondisi
keasaman (pH) dan tekanan osmotik dalam rumen tetap terjaga untuk ekosistem
mikroba.
Agen
defaunasi
Defaunasi
merupakan upaya untuk mengurangi keberadaan
fauna, dalam hal ini protozoa penghuni rumen. Penting atau tidaknya protozoa masih diperdebatkan. Pada
pemberian ransum berserat dan rendah kadar proteinnya, kehadiran protozoa
memberikan
efek negatif terhadap pertumbuhan ternak. Hal ini karena protozoa cenderung
memangsa bakteri untuk kelangsungan hidupnya akibat tidak diperoleh
makanan
berupa karbohidrat yang mudah difermentasi. Dilaporkan bahwa eliminasi protozoa
menurunkan 10 kali jumlah bakteri yang didegradasi menjadi NH3. Karena itu
defaunasi menyebabkan aliran protein atau asam amino ke duodenum meningkat.
Defaunasi dengan menggunakan ekstrak buah lerak (Aksapon SR) menyebabkan kenaikan
jumlah bakteri total sebesar 61,3%.
Penggunaan
minyak jagung sebagai agen defaunasi mampu mengeliminasi protozoa rumen dari 1,45
x 105 sel/ml menjadi 1,28 x 105 sel/ml dan
mengakibatkan
peningkatan populasi bakteri rumen dari 8,80 x 1010 kol/ml menjadi 11,40 x 1010
kol/ml atau naik sebesar 29,5%.
Bahan
agensia defaunasi yang aman didapatkan dari bahan alami seperti kembang sepatu,
lerak dan minyak. Agen defaunasi yang mengandung lemak cenderung berasosiasi
dengan partikel pakan dan mikroba rumen melalui penutupan permukaan secara fisik.
Bakteri rumen mempunyai kemampuan lipolisis yang kuat sehingga dengan cepat
dapat menguraikan lemak yang menyelimutinya. Sebaliknya, protozoa tidak
memiliki daya lipolisis, akibatnya pada kondisi rumen banyak lemak aktivitas
metabolisme protozoa terganggu dan akhirnya protozoa kurang mampu bertahan
hidup. Bahan yang mengandung saponin, steroid atau senyawa triterpen glikosida
juga mempunyai efek defaunasi karena adanya interaksi saponin-kolesterol
membran sel yang menyebabkan sel protozoa pecah.
Defaunasi menggunakan saponin asal teh
sebesar 0,4 dan 0,8 mg/ml cairan rumen dapat memodifikasi rumen dengan
menghasilkan proporsi asam asetat lebih rendah dan propionat lebih tinggi yang
diikuti konsentrasi N-NH3 dan protozoa lebih rendah, sedangkan protein mikroba
rumen meningkat.
Penggunaan
probiotik
Penggunaan probiotik merupakan satu alternative
dalam mengontrol fermentasi rumen yang
lebih efisien dalam penggunaan nutrien pakan. Beberapa strain mikroorganisme
telah digunakan sebagai probiotik antara lain yeast dan jamur. Penggunaan
probiotik dapat meningkatkan populasi dan aktivitas mikroba
rumen
untuk dapat meningkatkan kecernaan pakan. Jenis Saccharomyces cerevisiae telah
banyak digunakan dan diketahui meningkatkan produktivitas ternak. Yeast di
dalam rumen mampu memanfaatkan oksigen sehingga menjamin kondisi anaerob
bagi bakteri rumen dan menstimulasi populasi bakteri rumen tertentu.
Keadaan ini diikuti meningkatnya pemanfaatan amonia dan asam
laktat sehingga pH rumen stabil.
Asam amino sebagai faktor tumbuh
mikroba rumen
Tercatat ada 6 asam amino sebagai factor
pembatas bagi ruminansia. Defisiensi asam amino metionin, leusin, isoleusin,
dan valin dapat menghambat pertumbuhan bakteri rumen dan untuk mengatasinya
dapat dilakukan dengan cara
suplementasi
asam amino tersebut ke dalam ransum. Asam amino lisin merupakan faktor pembatas
bagi produktivitas ternak. Namun defisiensi asam amino
lisin
dan treonin tidak dapat diatasi dengan cara seperti itu. Asam amino lisin
mengalami perombakan total di dalam rumen dan treonin tidak ditemukan dalam
rumen maupun sampel digesta duodenum.
Selanjutnya untuk meningkatkan asupan
asam amino tersebut dapat dilakukan proteksi agar tidak didegradasi di dalam
rumen. Ternak ruminansia juga membutuhkan asam amino aromatik seperti
fenilalanin dan triptofan. Melalui manipulasi proses nutrisi maka dapat dilakukan
suplementasi asam amino tersebut atau melalui pemberian prekursornya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar